Info

Strategi Presentasi Sidang Skripsi dan Karya Ilmiah Lainnya

Selain dari teknik penulisan dan penelitian yang dilakukan, sebuah skripsi atau karya tulis akan dinilai baik dari strategi untuk mempresentasikan karya tulis tersebut supaya bisa mencuri perhatian para juri dan juga hadirin yang menyaksikan.

presentasi-sidang-skripsi

Bisa jadi, secara kualitas sebuah karya tulis dapat dikatakan sudah sangat bagus, tetapi karena dalam hal mempresentasikannya tidak bagus, nilai lebih yang ada pada karya tulis tersbeut menjadi tidak kelihatan, malah bisa saja sebaliknya: menjadi kelihatan tidak bagus.

Mempresentasikan skripsi atau karya tulis ilmiah pada dasarnya adalah melakukan komunikasi. Dalam presentasi, kita berkomunikasi dengan audiens atau pendengar untuk menyajikan hal-hal atau materi yang sudah kita tulis. Komunikasi di sini tidak saja bagaimana informasi yang kita miliki sampai kepada pendengar, tetapi lebih dari itu, audiens merasa tertarik dengan apa yang kita sampaikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan strategi presentasi sidang skripsi dan karya ilmiah lainnya adalah sebagai berikut:

1. Audiens/pendengar presentasi.

Dalam pelaksanaan presentasi, keberadaan peserta/pendengar presentasi sangat penting. Presentasi di depan orang yang mengerti hal-hal yang bersifat teknis, misalnya dalam sidang skripsi, tesis, disertasi, atau presentasi di depan juri, tentu berbeda dengan presentasi di depan masyarakat umum yang cenderung lebih mnykai hal-hal yang bersifat praktis dan tidak suka hal-hal yang bersifat detail. Orang yang mengerti teknis akan merasa kesal apabila penjelasan kita terlalu bertele-tele kepada hal-hal yang tidak esensial dan bahkan berkesan menggurui. Sementara masyarakat umum-apalagi dengan latar belakang yang beragam-akan bosan dan bingung jika kita menggunakan istilah teknis atau hal-hal yang terkesan detail dan njlimet. Singkatnya, kita tidak bisa memukul rata gaya presentasi kita pada setiap kesempatan untuk melakukan presentasi. Kenali siapa audiens dalam presntasi kita sehingga kita lebih bisa menyesuaikan dengan kondisi mereka (audiens).

2. Durasi yang disediakan untuk presentasi.

Seringkali, para presenter merasa kebingungan dalam melakukan presentasi karena waktu yang disediakan untuk presentasi sangat terbatas. Sebagai contoh, sebuah karya tulis disusun dalam seratus halaman, kemudian waktu yang tersedia untuk mempresentasikan karya tulis tersebut hanya sepuluh menit. Hal ini tentu membutuhkan srategi tersendiri supaya dengan waktu yang terbatas tersebut hal-hal penting yang ada dalam karya tulis tersebut bisa tersampaikan dengan baik.

Penguasaan waktu merupakan hal yang penting. Bisa jadi, seorang pembicara sebuah seminar sebenarnya memiliki reputasi dan kualitas yang bagus, tetapi karena kurang cerdas dalam mengendalikan waktunya, biasanya alokasi yang disediakan tidak cukup, menjadi molor sehingga memberi dampak negatif. Dampak negatif ini akan dirasakan oleh audiens, pembicara lain (jika lebih dari satu pembicara), penguji, dan panitia (jika ini terjadi dalam sebuah seminar). Jadi, kecerdasan seorang presenter tidak sebatas pada bagaimana cara menyampaikan materi atau penguasaan materi, tetapi lebih dari itu adalah bagaimana ia mengendalikan waktu.

Jika seorang presenter malakukan presentasi lebih cepat dari durasi yang disediakan, kesan yang ditangkap oleh audiens adalah presenter tersebut kurang menguasai materi dan terkesan kurang percaya diri (minder sehingga ingin cepat selesai). Namun, jika melebihi waktu yang disediakan, juga tetap berdampak tidak bagus. Kesan yang ditangkap adalah seorang presenter ini sok tahu, suka menggurui, dan terlalu bertele-tele. Lain halnya jika seorang presenter dapat memanfaatkan waktu yang disediakan secara pas/tepat. Kesan yang didapat adalah cerdas memanfaatkan waktu, tidak berlebihan dalam berbicara, dan juga tidak minder. Meskipun, tentu hal ini tidak bisa dicapai secara instan, perlu latihan yang intens.

3. Materi Presentasi

Materi yang dimaksud di sini ada dua hal, yaitu materi karya tulis ilmiah secara keseluruhan dan materi untuk keperluan presentasi. Sebelum melakukan presntasi, kita pastikan bahwa materi secara tertulis sudah siap, baik dari segi penulisan maupun dari segi kualitas isi. Jangan sampai kita mempresentasikan sebuah karya tulis ilmiah yang belum tuntas kita tulis. Materi yang sudah kita persiapkan tersebut harus kita kuasai secara mendalam, yakinkan bahwa kita adalah satu-satunya orang yang paling mengerti apa yang sudah kita tulis. Hal ini penting untuk mempersiapkan mental saat menghadapi pertayaan-pertanyaan yang akan diajukan. Lebih bagus lagi jika kita juga mengusai hal-hal lain yang tidak secara langsung berkaitan dengan materi tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi jika ada pertanyaan-pertanyaan di luar yang kita tulis meskipun masih berhubungan. Jadi kita tidak sekadar terkungkung pada satu fokus hal yang kita tulis, tetapi mempunyai wawasan yang lebih luas.

Selanjutnya kita juga harus menyiapkan meteri untuk presentasi. Hal-hal apa yang hendak kita presentasikan harus kita sesuasikan dengan audiens dan alokasi waktu. Secara teknis, beberapa hal yang perlu dipersiapkan, antara lain: Materi presentasi (slide dan handout atau makalah yang akan dibagikan); komputer, notebook, atau perangkat elektronik yang digunakan; percobaan presentasi untuk menghitung lamanya waktu presentasi. Perhatikan bahwa materi presentasi dapat dibaca dengan mudah oleh pendengar (lebih lengkap akan dijelaskan pada sesi tersendiri oleh lain pembicara).

Hal yang sangat penting adalah bagaimana memilih hal mana saja yang akan pilih untuk kita presentasikan sehingga kita nanti bisa memanfaatkan waktu yang singkat untuk menjelaskan sesuatu yang tepat. Maksudnya, jangan sampai karena niat kita untuk memanfaatkan waktu kemudian kita bicara tidak tuntas, belum pada pokok persoalan yang seharusnya kita presentasikan. Strateginya, poin-poin utama yang penting dalam karya tulis kita saja yang kita pilih untuk presentasikan dan kita sampaikan dengan bahasa yang ringkas. Jika tidak demikian, maka kemungkinan ada hal yang seharusnya kita sampaikan tetapi justru terlewat, atau sebaliknya, hal yang sebenarnya tidak perlu kita sampaikan tetapi justru kita sampaikan dalam waktu yang lama.

4. Pelaksanaan Presentasi

Setelah persiapan sudah kita lakukan secara matang, tiba saatnya kita menjalankan rencana yang telah kita siapkan: melakukan presentasi. Dalam melakukan presentasi, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

  • Kondisi fisik.
  • Segala perlengkapan presentasi sudah siap.
  • Ketepatan waktu.
  • Pengetahuan audiens.
  • Tips dalam menghadapi pendengar dan menjawab pertanyaan.

Berdasar pengalaman, hal yang sering menjadi ‘ketakutan’ para presenter adalah kesiapan menghadapi audiens dan ketika menjawab pertanyaan. Lebih spesifik misalnya dalam ujian skripsi atau ketika presntasi di hadapan juri sebuah kompetisi. Tidak sedikit yang kurang siap mental sehingga hal ini bisa merusak segala rencana. Karena kekurangsiapan mental, bisa jadi segala meteri yang kita kuasai akan hilang. Arah bicara kita tidak jelas, tubuh gemetar, bahkan tidak sadar dengan alokasi waktu yang disediakan. Jadi, mempersiapkan mental adalah hal utama yang perlu disiapkan dalam presntasi, khususnya bagi mereka yang jarang atau bahkan belum pernah melakukan presentasi.

Ada beberapa tips yang dapat kita terapkan. Hendak memulai presentasi, bagaimana seharusnya kita membukanya? Pembuka sebenarnya bergantung kepada bentuk acara, pendengar, dan kebiasaan yang berlaku di tempat tersebut. Untuk acara seminar yang dihadiri oleh mahasiswa, kata pembukaan bisa sedikit santai. Namun untuk ujian skripsi dengan penguji yang terbatas, biasanya lebih formal dan tidak perlu banyak basa-basi. Kebiasaan setempat juga menentukan kata pembukaan. Pembukaan seperlunya saja supaya tidak memakn waktu yang tersedia, tetapi dengan waktu yang singkat itu kita dapat memberikan kesan pertama yang positif pada audiens.

Ketika menjelaskan sebuah slide, kadang-kadang (tidak selalu) kita perlu menunjuk sesuatu di layar. Tunjukkan bagian itu dengan pointer, laser pointer, atau jika terpaksa dengan telunjuk (tidak apa-apa). Jangan hanya mengatakan “seperti ini” atau “seperti itu” tanpa menunjukkan mana yang dimaksud dengan ini atau itu. Ada juga seorang presenter yang matanya selalu terpaku pada slide yang ada di komputer atau laptop sehingga dia tidak tahu bahwa proyeksi di layar (yang terlihat oleh pendengar) miring-miring atau bahkan posisi slide terlalu bawah sehingga tidak dapat dilihat oleh pendengar.

Sebaiknya, pada saat presentasi (jika kita berdiri) jangan terlalu sering untuk membelakangi pendengar. Seringkali, jika seseorang merasa canggung, ia memilih untuk hanya melihat layar dan membelakangi pendengar seolah-olah dia takut bertatap muka dengan pendengarnya. Perhatikan raut wajah dari para pendengar. Apakah mereka sudah bosan? bingung? tersenyum? Jadikan ini menjadi umpan balik bagi strategi presentasi kita. Jadi, kita sadar diri dengan kondisi yang tengah terjadi, apalagi dalam sebuah kompetisi, segala sesuatu yang ada pada diri kita dinilai, tentu harus lebih diperhatikan.

Ketika memberikan presentasi, kita harus convincing atau meyakinkan. Bagaimana pendengar akan percaya dengan apa yang kita presentasikan jika kita sendiri kelihatannya tidak percaya? Namun, juga jangan sampai menjadi berkesan terlalu arogan atau sok tahu. Dalam menghadapi pertanyaan, kita dengarkan dahulu pertanyaannya. Kalau perlu, catat dahulu pertanyaan tersebut. Jangan cepat-cepat ingin menjawab atau bahkan memotong pertanyaan pendengar, kecuali kita merasa penanya ini terlalu berlarut-larut dalam mengutarakan pertanyaannya. Sering kali orang berputar-putar dan tidak to the point dalam mengutarakan pertanyaan. Menunggu penanya selesai juga memberikan waktu kepada kita untuk memikirkan jawabannya.

Jangan pernah ngotot dengan penanya. Kita boleh saja berbeda pendapat. Jika ada penanya yang ngotot, kemudian kita sudah menjelaskan tetapi dia tetap ngotot, maka kita sepakati saja bahwa kita dan sang penanya berbeda pendapat.

 

, , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply